Porostimur.com, Ternate – Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka pengangguran di Maluku Utara kembali meningkat. Jumlah pengangguran naik dari 27,86 ribu menjadi 29,53 ribu orang, dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) naik dari 4,16 persen menjadi 4,26 persen pada tahun 2025.
Tren Penurunan Terhenti
Kenaikan 0,1 persen ini memang tampak kecil, namun mencerminkan adanya persoalan struktural yang semakin nyata di lapangan. Kondisi ini sekaligus memutus tren penurunan pengangguran yang telah berlangsung sejak tahun 2022 lalu.
Ekonomi Maluku Utara selama ini masih bergantung pada sektor primer seperti pertambangan nikel dan perikanan laut. Ketergantungan tinggi terhadap komoditas mentah membuat perekonomian daerah sangat rentan terhadap gejolak harga global.
“Ketergantungan ini membuat daerah sangat rentan terhadap fluktuasi harga global,” ujar Dr. Nurul Hidayah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Khairun (Unkhair), Sabtu (4/10/2025).
Menurutnya, diversifikasi ekonomi menjadi keharusan agar ketahanan daerah dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Dampak Hilirisasi yang Belum Maksimal
Ketika harga nikel turun, banyak perusahaan mengurangi produksi bahkan merumahkan sebagian pekerjanya. Ribuan keluarga kehilangan penghasilan dan daya beli masyarakat ikut melemah.









