Porostimur.com, Labuha – Pengelolaan sumber daya air menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan lingkungan di kawasan tambang. Di Desa Kawasi, Halmahera Selatan, air tidak hanya menjadi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga penentu keseimbangan antara aktivitas industri dan kelestarian alam.
Di wilayah ini, mata air menjadi sumber utama kehidupan warga. Sementara itu, kawasan Kawasi juga berada dekat dengan aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel yang terus berkembang. Kondisi ini menuntut pengelolaan air yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan.
Pengelolaan Berbasis Neraca Air
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia Tri Edhi Budhi Soesilo, menegaskan bahwa keberlanjutan sumber air sangat bergantung pada cara manusia memperlakukan lingkungan.
“Menjaga sumber air tentu dapat diupayakan, bergantung pada bagaimana manusia memperlakukan alam,” ujarnya.
Secara hidrogeologis, mata air Kawasi berasal dari akuifer dangkal di kawasan hutan dan dataran tinggi Obi bagian timur. Dalam observasi lapangan pada Juni 2025, Budhi mencatat sejumlah langkah pelestarian telah dilakukan, mulai dari perlindungan daerah tangkapan air, pembangunan jaringan distribusi ke permukiman, hingga pelibatan masyarakat dalam pengelolaan.




