Dampak Meluas ke Ekonomi Dunia
Tekanan tidak hanya dirasakan di AS. Oxford Economics menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,4 persen, turun 0,4 poin persentase sejak awal Maret.
Direktur riset makro global, Ben May, menyebut gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz menjadi faktor utama.
Ia memperkirakan harga minyak Brent bisa mencapai rata-rata USD113 per barel dalam waktu dekat sebelum turun di akhir tahun.
Kenaikan harga energi ini diperkirakan akan merembet ke berbagai sektor, termasuk pangan, pupuk, hingga manufaktur, sehingga memperparah inflasi global.
Rantai Pasok Terganggu, Industri Tertekan
Gangguan distribusi melalui jalur laut strategis itu juga berdampak pada rantai pasok global. Sekitar 11 persen perdagangan maritim dunia melewati Selat Hormuz, mencakup komoditas penting seperti bahan kimia, semen, hingga biji-bijian.
Konsultan rantai pasok, David Coffey, memperingatkan kondisi ini mulai terasa di tingkat konsumen.
Ia mengaku mulai melihat rak-rak toko yang tidak terisi penuh akibat keterlambatan distribusi.
“Akan ada gangguan jangka panjang… dan tanpa tanda-tanda berakhir, situasinya akan semakin buruk,” ujarnya.
Tekanan Politik di Dalam Negeri AS
Di tengah tekanan ekonomi, posisi Presiden Donald Trump di dalam negeri juga ikut terpengaruh. Survei Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya turun menjadi 34 persen.









