Rasha Abu Souleyma, salah seorang pengungsi, sempat menyelinap kembali ke rumahnya di Rafah untuk mengambil beberapa barang yang tertinggal. Ia kembali membawa pakaian lama, kacamata plastik merah muda, dan gelang untuk kedua putrinya sebagai hadiah Iduladha.
“Saya tidak bisa membelikan mereka baju baru atau makanan enak. Dulu saya membawa daging saat hari raya agar mereka senang. Sekarang roti pun sulit,” ujarnya.
Di tengah reruntuhan, anak-anak berusaha menikmati hari raya dengan bermain di ayunan darurat yang terbuat dari tali.
Karima Nejelli, pengungsi dari Rafah, mengatakan, selama empat hari raya terakhir, termasuk dua kali Idulfitri dan dua kali Iduladha sejak perang, ia dan keluarga tidak pernah benar-benar merayakan apa pun. “Tidak ada kurban, tidak ada kue, tidak ada pakaian baru,” ujarnya.
(red/beritasatu)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News









