Percakapan Hayal Soekarno-Hatta

oleh -13 Dilihat

“Kompleks,” koreksi Hatta.

Di luar, kini muncul wajah-wajah muda, layar ponsel, arus informasi tanpa henti.
“Bagaimana generasi sekarang?” tanya Soekarno.

“Mereka punya energi besar,” jawab Hatta. “Tapi perhatian terpecah. Informasi melimpah, kedalaman sering hilang.”

“Revolusi digital tanpa revolusi karakter,” kata Soekarno.

“Dan pendidikan kita belum sepenuhnya membentuk warga yang kritis,” tambah Hatta.

Soekarno berdiri lagi. “Jadi dari ekonomi, politik, lingkungan, sampai pendidikan—semuanya belum mencapai cita-cita kita?”

Hatta ikut berdiri. “Belum sepenuhnya. Tapi bukan berarti gagal.”

“Apa bedanya belum tercapai dengan melenceng?” tanya Soekarno tajam.

Hatta menjawab tenang. “Melenceng berarti kehilangan arah. Kita masih punya arah—dalam nilai, dalam dasar negara. Tapi pelaksanaannya sering menyimpang.”

Baca Juga  Polsubsektor Longgar Rutin Razia Sopi di Kapal, Putus Mata Rantai Peredaran Miras

“Soalnya,” kata Soekarno perlahan, “bukan pada cita-cita kita. Tapi pada keberanian untuk setia padanya.”

“Dan kemampuan menerjemahkannya,” tambah Hatta, “ke dalam kebijakan nyata.”

Riuh Indonesia terdengar lagi: harapan, kritik, kemajuan, dan kegagalan—semuanya bercampur.
“Kalau kita masih ada,” kata Soekarno, “aku akan membangkitkan kembali keberanian bangsa ini. Membuat mereka percaya bahwa Indonesia bisa besar.”

No More Posts Available.

No more pages to load.