Setelah itu, ada usaha bersama melanjutkan dengan menulis kisah dan pengalaman ODHA di tengah masih kuatnya stigma dan diskriminasi dirasakan, tetapi mereka mampu membuka diri, makin percaya diri dan berdaya sebagai manusia utuh.

Dwi Prihandini berkomitmen untuk tidak berhenti sampai disitu. Artinya, buku ini bisa menguatkan teman-teman yang berani membuka diri bahwa kita harus merdeka.
“Buku ini saya akan alih bahasakan dalam bahasa Inggris di tahun 2020 dengan izin Rumah Beta Maluku sebagai penulis. Harapannya, bukan cuma di Maluku tetapi dunia internasional juga tahu bahwa mereka (ODHA-Red) ada dan mereka berdaya,” janjinya.
Elifas Maspaitella (Penulis dan Rohaniawan) mengatakan, selama ini orang diluar pun semacam kebingungan bahwa siapa yang harus berbicara supaya masyarakat sadar bahwa ODHA itu juga adalah bagian dari diri mereka.
Untuk itu, buku ini dipandang sebagai sebuah gebrakan karena ODHA yang berbicara sendiri tentang dirinya. Artinya, ini cuhatan isi hati yang jujur dan tulus dari ODHA dengan pesan penting bahwa masyarakat sedang diedukasi oleh ODHA lewat buku ini agar juga menjadi masyarakat yang baik-baik saja seperti mereka.
“Karena itu mengapa kita harus melanjutkan stigmatisasi diskriminasi terhadap mereka ? Sebab masih banyak orang juga tidak jujur mengungkapkan siapa mereka, sementara ODHA sendiri telah jujur mengungkapkan siapa diri mereka,” ungkapnya.




