Menurut Latif, pembangunan infrastruktur merupakan investasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat di sekitar wilayah operasional memiliki akses yang lebih luas terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pasar.
Dari Ketergantungan Cuaca ke Akses yang Pasti
Sebelum hadirnya jembatan, masyarakat harus menghadapi keterbatasan akses akibat kondisi geografis. Sungai Akelamo yang menjadi sungai terbesar di Pulau Obi selama bertahun-tahun memisahkan Desa Soligi dan Desa Kawasi.
Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, mengungkapkan warga sebelumnya harus menggunakan ponton untuk menyeberang, dengan risiko tinggi karena bergantung pada arus dan cuaca.
“Dulu warga harus menyesuaikan arus dan cuaca saat menyeberang. Sekarang akses lebih aman, cepat, dan efisien,” ujarnya.
Sejak Jembatan Akelamo mulai beroperasi pada awal 2025, mobilitas masyarakat menjadi jauh lebih lancar, termasuk dalam mengakses layanan kesehatan dan pendidikan.
Perkuat Ekonomi dan Kolaborasi Warga
Kemudahan akses juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat. Distribusi hasil pertanian dan perikanan kini lebih cepat dan efisien, sehingga membuka peluang pasar yang lebih luas.
Kepala Desa Kawasi, Arifin Saroa, menyebut terbukanya akses darat telah mendorong kerja sama antarwarga dalam aktivitas perdagangan.









