Pertama, ini membuktikan bahwa klaim AS tentang “supremasi udara total” di atas Iran adalah omong kosong. Hanya beberapa hari sebelumnya, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dengan percaya diri mengumumkan bahwa Amerika telah “mengamankan supremasi udara penuh” dan bahkan menerbangkan pesawat pengebom B-52 di atas wilayah Iran. Fakta di lapangan berkata lain: sistem pertahanan udara Iran masih berfungsi, dan mereka masih bisa menembak jatuh pesawat tercanggih sekalipun.
Kedua, ini mengubah kalkulus risiko bagi AS. Selama lima pekan, perang ini adalah perang “tombol”—menekan tombol dari kejauhan, meluncurkan rudal dari kapal di Teluk, tanpa harus mempertaruhkan nyawa prajurit di darat musuh. Kini, dengan satu pilot yang hilang di wilayah Iran, perang ini telah memasuki fase baru: fase di mana tentara Amerika harus mendarat di Iran, dan di mana mereka bisa terluka, ditangkap, atau dibunuh.
Ketiga, ini adalah kemenangan propaganda besar bagi Iran. Di jalan-jalan Teheran, warga merayakan apa yang disebut mereka sebagai “kemenangan besar”. Speaker Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf menulis di X: “Apa yang dimulai sebagai kampanye militer kini telah berubah menjadi perburuan pilot mereka”. Bagi rezim yang sedang tertekan, ini adalah suntikan moral yang sangat dibutuhkan.










