Barangkali itu sebabnya Pesta Babi menjadi mencurigakan.
Namun sejak kapan kecurigaan menjadi cukup untuk membubarkan percakapan?
Jika sebuah karya dianggap bermasalah, bukankah ruang sipil menyediakan jalan: kritik, diskusi, bantahan? Mengapa yang dipilih justru penghentian—pemutusan yang seketika, tanpa dialog, tanpa kesempatan untuk memahami?
Dalam setiap pembubaran, terselip pesan yang tak diucapkan namun terasa: bahwa ada sesuatu yang tak boleh dilihat, tak boleh didengar, tak boleh dipikirkan bersama.
Dan di situlah demokrasi mulai kehilangan napasnya—perlahan, hampir tak terasa.
Jejak yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang
Kehadiran militer di ruang sipil selalu membawa gema sejarah. Ia seperti bayangan lama yang diam-diam memanjang di dinding masa kini.
Kita pernah hidup dalam waktu ketika seragam bukan hanya menjaga batas negara, tetapi juga merambah isi kepala warga. Masa itu telah kita lewati, setidaknya secara formal. Namun setiap kali aparat bersenjata hadir untuk membubarkan ruang ekspresi, masa lalu itu seperti mengetuk kembali—pelan, tetapi cukup untuk membuat kita menoleh.
Mungkin ini belum bisa disebut sebagai kembalinya militerisme secara utuh. Tetapi sejarah mengajarkan: gejala besar selalu dimulai dari tanda-tanda kecil yang dibiarkan.










