Pesta Babi dan Suara yang Dibungkam

oleh -58 views

Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis dan sastrawan nasional

Pada mulanya ia hanya layar yang sederhana: selembar kain putih, cahaya proyektor yang bergetar pelan, dan sekelompok anak muda yang datang membawa rasa ingin tahu. Mereka tidak datang untuk memberontak. Mereka hanya ingin menonton, memahami, lalu mungkin berbicara.

Namun malam itu, seperti juga di malam-malam lain sebelumnya, layar itu tak pernah benar-benar sempat menyala. Film Pesta Babi dihentikan sebelum kisahnya utuh. Percakapan dibubarkan sebelum sempat lahir. Dan yang tersisa hanyalah sunyi—sunyi yang dipaksakan.

Yang datang bukan sekadar larangan. Yang hadir adalah kuasa.

Di beberapa titik—dari kampus di Nusa Tenggara Barat hingga kota Ternate—aparat turun tangan. Nama Tentara Nasional Indonesia disebut dalam peristiwa-peristiwa itu. Ia hadir bukan di garis depan pertahanan negara, melainkan di ruang kecil tempat warga hendak menonton dan berpikir bersama.

Baca Juga  DPRD Maluku Apresiasi Pelayanan JCH Embarkasi Antara di Makassar

Di situlah keganjilan menemukan bentuknya.

Layar yang Dianggap Terlalu Terang

Kita hidup di zaman ketika gambar bisa lebih tajam dari peluru, dan cerita dapat lebih mengguncang daripada pidato. Film tidak lagi sekadar hiburan; ia adalah bahasa lain dari kegelisahan, cara sunyi untuk menyebut apa yang sering kali tak diizinkan hadir di ruang terang.

No More Posts Available.

No more pages to load.