PKS: Program Hilirisasi Nikel Hanya Untungkan Asing

oleh -81 views
Link Banner

Porostimur.com | Jakarta: Anggota Komisi VII DPR RI Mulyanto mendesak pemerintah melakukan evaluasi komprehensif terhadap program hilirisasi nikel nasional.

Ia menilai bahwa manfaat dari seluruh rantai nilai program hilirisasi nikel yang berjalan sekarang tidak adil dan hanya menguntungkan pihak investor asing.

Padahal janjinya, kata Mulyanto, Pemerintah akan memaksimalkan pendapatan negara dari kerjasama hilirisasi nikel ini.

“Berdasarkan hitung-hitungan ekonom Faisal Basri dari seluruh rantai nilai proyek hilirisasi nikel ini, Indonesia hanya mendapat keuntungan maksimal 10 persen. Sementara sisanya 90 persen dinikmati oleh investor asing,” kata Mulyanto dalam keterangannya yang diterima Porostimur.com, Sabtu (31/7/2021).

Ia menuturkan dalam jangka pendek belum terasa manisnya program hilirisasi nikel bagi masyarakat. “Yang terasa masih pahitnya saja.,” ujarnya.

Ia mencontohkan masyarakat tidak bisa menikmati harga nikel internasional yang tinggi, serta datangnya TKA yang ditengarai adalah para pekerja kasar dengan visa turis bukan visa pekerja. Belum lagi pencemaran lingkungan dari pembuangan limbah proses pengolahan.

Baca Juga  Etika Komunikasi Politik Gubernur Maluku

Padahal, dalam amanat konstitusi jelas disebutkan bahwa negara melindungi seluruh tumpah darah Indonesia dan kekayaan alamnya untuk kemajuan dan kesejahteraan Rakyat Indonesia.

“Prinsip ini juga harus dilaksanakan oleh pemerintah saat bermitra dengan China termasuk yang terkait dengan hilirisasi nikel ini,” ujar Mulyanto.

Wakil Ketua Faksi PKS DPR RI Bidang Industri dan Pembangunan ini menilai sebenarnya hilirisasi nikel ini adalah program sangat bagus. Harapannya Indonesia dapat mengekspor barang jadi dengan nilai tambah tinggi.

Dengan demikian, penerimaan Negara akan meningkat. Selain itu dengan pengoperasian industri smelter ini dapat diserap banyak tenaga kerja lokal.

Namun kenyataan hilirisasi yang terjadi masih menghasilkan nilai tambah yang rendah. Sebanyak 80 persen produk yang dihasilkan industri smelter nasional baru sebatas bahan setengah jadi berupa feronikel yang berkadar rendah (NPI). Sementara hasil pengolahan berupa stainless steel (SS) hanya 20 persen.

Baca Juga  Kolatlena Temukan Sejumlah Permasalahan Saat Reses di SBT

Hingga kini bahan nikel murni untuk industri baterai belum ada. Karena itu nilai tambah industri smelter ini hanya mencapai 3-4 kali dari bahan mentahnya. Tidak sebesar 19 kali sebagaimana yang dijanjikan Pemerintah.

“Tadinya kita berharap Tesla memilih tambang di Indonesia untuk industri baterai mereka, karena cadangan nikel kita yang besar dan harga yang relative murah. Namun faktanya, berdasarkan hitung-hitungan bisnis riil, mereka lebih memilih mitra tambang nikel di Australia ketimbang kita,” katanya. (red)