Lalu, sebanyak 12 proyek dengan kapasitas 177 MW menurutnya diterminasi dan diganti proyek lain, seperti PLTMG 80 MW, PLTD 6 MW, dan PLTU Waai Ambon 2×15 MW sedang dalam proses penyidikan, sehingga berpotensi diterminasi.
Menurutnya, dari 34 proyek terkendala tersebut, sebagian besar merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Namun, sebanyak 8 PLTU dengan kapasitas 295 MW diusulkan kembali dimasukkan ke dalam draft Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030, antara lain PLTU 1 Kalbar Parit Baru FTP-1, PLTU 2 Kalbar Bengkayang FTP-1, PLTU Tanjung Selor, PLTU Sampit, PLTU Kota Baru, PLTU Alor, PLTU Atambua, dan PLTU Rote.
“Mana-mana yang mesti masuk ke RUPTL meski proyek ini masih akan terkendala. Kita masih masukkan karena legal risk agak tinggi kita sepakat tetap dicantumkan,” ungkapnya.
Berdasarkan daerah sebaran, kebanyakan proyek pembangkit macet ini ada di Kalimantan dengan jumlah 10 unit PLTU berkapasitas 295 MW. Lalu disusul Sulawesi sebanyak 7 PLTU berkapasitas 104 MW dan 2 PLTM 5,2 MW, lalu Sumatera 5 PLTU dengan kapasitas 65 MW, Nusa Tenggara 5 PLTU dengan kapasitas 70 MW, Maluku Papua sebanyak 4 PLTU berkapasitas 94 MW dan 1 PLTM 2,6 MW.
(red/cnbc)




