Poka dan Waktu yang Mengendap

oleh -292 views

Oleh: Khairuz Salampessy, Pegiat lingkungan

Tidak setiap tempat menunggu untuk dikenang. Sebagian tumbuh tanpa suara, berjalan di bawah radar ingatan, dan tiba-tiba menetap sebagai rasa yang tidak bisa dijelaskan sepenuhnya.

Poka—bukan kota, bukan hanya desa. Poka adalah satu dari sedikit ruang yang hidup di antara detik dan selisih. Ia menggantung di lekuk Teluk Ambon seperti titik hitam di halaman kosong: nyaris tak terlihat, tapi terus memengaruhi cara mata membaca seluruh halaman.

Waktu di sana tidak bergerak lurus. Ia bergulir seperti kabut: melingkar, menempel, mengendap. Laut tidak memantulkan langit, tapi mengingatkannya bahwa pantulan bisa salah.

Dulu, Poka dan Galala disambungkan oleh fery dan perahu layar yang menyentuh air. Seperti doa yang diucapkan tanpa suara.

Baca Juga  Tinjau Kontingen di Porprov V Malut, Ketua KONI Haltim Bakar Semangat Atlet

Kini, Jembatan Merah Putih menyatukan lautan dan daratan dalam koneksi yang terlalu pasti. Beton merentang panjang, meniadakan jeda.

Apa yang dahulu butuh waktu kini cukup dengan gas. Perjalanan menjadi transisi; tidak lagi ruang untuk menunggu.

Di pertigaan Leimena, sebuah figur dibiarkan membatu di tengah arus kendaraan. Johannes Leimena—dokter, perancang ide besar dengan metode kecil: perawatan yang dimulai dari yang terdekat (Puskesmas).

No More Posts Available.

No more pages to load.