Politik Citra

oleh -258 views

Foto pemimpin yang sedang memeluk anak-anak di kamp pengungsian lebih berharga ketimbang laporan pembangunan ulang rumah warga.

Dalam iklim ini, representasi menjadi realitas baru. Pemimpin adalah gambar dirinya. “Aku tampil, maka aku ada.” Cogito ergo sum telah digantikan oleh video ergo sum.

Politik hari ini hidup dalam logika decibel: siapa yang paling keras, paling emosional, paling memicu kontroversi, dialah yang mendapat tempat di ruang publik. Argumentasi digantikan provokasi. Konten menggusur konteks. Emosi mendahului analisis.

Fenomena ini bisa dilihat dalam budaya talkshow politik yang kini lebih menyerupai ring tinju. Penonton tidak lagi menyimak, mereka menanti ledakan. Gagasan tidak ditimbang, hanya dijadikan umpan.

Cass Sunstein, dalam Republic: Divided Democracy in the Age of Social Media (2017), mencatat bahwa logika algoritma media sosial mendorong orang untuk bersuara bukan demi kebenaran, tetapi demi resonansi.

Baca Juga  Mojtaba Khamenei: Dengan Pertolongan Tuhan, AS Menghadapi Kekalahan Memalukan

Apa yang paling mungkin mendapat like, share, atau retweet—itulah yang dimenangkan.

Topeng

Plato dalam The Republic membayangkan bentuk pemerintahan ideal yang dipandu oleh cinta akan kebenaran. Namun di negeri ini, topeng sering lebih penting daripada wajah.

Seorang pemimpin yang ramah di layar bisa memimpin rezim yang otoriter di balik layar. Ia tampak sederhana, tapi hidup dalam kemewahan tersembunyi. Ia bicara etika, tapi membungkam kritik.

No More Posts Available.

No more pages to load.