Politik Citra

oleh -257 views

Topeng ini bekerja karena publik ikut memakainya. Kita, para pemilih, terkadang lebih suka melihat pemimpin sebagai simbol harapan, bukan sebagai pejabat publik yang harus dipertanggungjawabkan.

Dalam logika ini, politik bukan lagi perihal mengelola konflik atau merancang kebijakan, tapi soal koreografi: dari senyuman, dari nada suara, dari gestur yang disengaja.

Media sosial membentuk memori publik yang singkat. Skandal bisa viral pagi ini, lalu tenggelam sore hari. Masalah besar berganti dalam hitungan hari, bahkan jam.

Hannah Arendt pernah memperingatkan bahwa kehilangan kemampuan untuk berpikir dan mengingat adalah jalan masuk ke dalam totalitarianisme—bukan karena rakyat jahat, tapi karena mereka tak lagi peduli (Arendt, The Origins of Totalitarianism, 1951).

Kita mudah marah, tetapi lebih mudah lupa. Kita kecewa pada pemimpin, tapi tetap memilihnya kembali karena “ia terlihat baik”.

Baca Juga  Ini Sahabat yang Dimakamkan Bersebelahan dengan Rasulullah

Memori publik dijinakkan oleh gempita isu-isu permukaan. Dalam strategi komunikasi kekuasaan, ini bukan kelalaian—ini disengaja. Pelupa adalah rakyat yang mudah dikelola.

Apa yang dilupakan ketika semua menjadi tampilan? Esensi.

Esensi adalah kerja senyap birokrasi yang jujur. Ia tak muncul di layar, tak viral, tak diliput media.

No More Posts Available.

No more pages to load.