Politik Mesias Digital

oleh -44 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Donald Trump tampaknya memang tidak pernah puas hanya menjadi presiden. Menjadi kepala negara saja rasanya kurang gurih. Ia ingin menjadi semacam nabi politik, mesias algoritma, imam besar nasionalisme Amerika, lengkap dengan jubah putih, cahaya surgawi, dan burung elang.

Ia tampil dengan latar bendera AS berkibar seperti spanduk diskon di pusat perbelanjaan kapitalisme. Kita pun melihat, dunia modern benar-benar telah sampai pada satu titik aneh: teknologi kecerdasan buatan bukan dipakai untuk mengatasi kemiskinan, tapi membuat seorang presiden tampak seperti Yesus Kristus versi CGI.

Maka muncullah gambar AI Trump dengan pose seorang pendeta penyembuh ilahi. Tangan diletakkan di kepala orang sakit. Cahaya memancar dari jemarinya. Elang Amerika terbang di belakangnya. Bendera berkibar seperti hendak mengiringi kedatangan wahyu baru dari Silicon Valley.

Kalau lukisan Renaissance dulu menggambarkan para santo dengan aura emas, maka era digital menggambarkan politisi dengan filter kecerdasan buatan dan mesin propaganda media sosial. Namun panggung religius-politik yang norak itu ternyata mendapat respons buruk dari bangsa Amerika. Bahkan sangat buruk.

Baca Juga  PSG vs Arsenal di Final Liga Champions, Adu Tajam Lini Depan dan Kokoh Pertahanan

Jajak pendapat yang diselenggarakan Washington Post–ABC News–Ipsos, Jumat pekan lalu, memperlihatkan sesuatu yang menarik: 87 persen rakyat Amerika bereaksi negatif terhadap gambar Trump ala Yesus itu. Bahkan 69 persen menyatakan sangat negatif.

No More Posts Available.

No more pages to load.