Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Kalau Anda mengikuti politik Amerika hari-hari ini, Anda tentu melihat Donald Trump ada di semua lini. Apa saja tentang Trump selalu menjadi berita. Kaum liberal yang menjadi lawannya, senang membencinya. Kaum konservatif, khususnya kaum pinggiran yang kalah, senang dengan semua retorikanya yang tidak tahu adat, tidak ada sopan santun, dan menabrak semua norma dan nilai.
Dia berbohong hingga derajat galaktikal sehingga media berhenti melakukan cek fakta atas kebohongan-kebohongannya itu. Ia menyebarkan insinuasi atas lawan-lawannya. Ia menganjurkan kekerasan sekalipun dua kali anjuran itu berbalik mengancam nyawanya.
Trump adalah wakil dari orang-orang Amerika yang frustasi (dan depresi) melihat keadaan dan nasibnya. Pendukungnya adalah sebagian besar orang kulit putih yang berpendidikan rendah, umumnya hidup di pedesaan.
Untuk penduduk “dunia ketiga Amerika” ini, Trump adalah penyelamat. Sang Mesias. Mereka tidak peduli akan kebohongannya, keculasannya mencuri (dengan menekuk-nekuk hukum), dan bombastisnya ketika bicara. Orang-orang frustasi ini, seperti yang sering saya dengar, menjadikan Trump sebagai senjata pamungkas memusnahkan Amerika.









