Meski demikian, ia mengakui bahwa mengakhiri perang merupakan langkah yang tepat. Namun dari sisi capaian strategis, ia menilai hasilnya sebagai “kekalahan, kekalahan, dan kekalahan di semua lini bagi Trump dan Amerika Serikat.”
Kekhawatiran Soal Nuklir Iran
Sejumlah laporan media di AS menyebutkan bahwa meskipun menghadapi serangan gabungan AS dan Israel, kekuatan militer Iran tetap tangguh. Bahkan, Teheran dinilai berpotensi memperoleh senjata nuklir dalam hitungan bulan, meski hal itu terus dibantah oleh pemerintah Iran.
Senator California, Adam Schiff, turut menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menilai kesepakatan tersebut berpotensi hanya menjadi langkah sementara tanpa penyelesaian substansial.
“Perundingan dapat berakhir dengan pengumuman untuk menyelamatkan muka agar dapat menyetujui kesepakatan di kemudian hari oleh presiden. Itu akan menjadi kerugian strategis yang mengerikan bagi negara,” ujarnya.
Israel Merasa Ditinggalkan
Di sisi lain, reaksi keras juga datang dari Israel yang merasa dikesampingkan dalam proses negosiasi. Sejumlah pejabat di Tel Aviv bahkan menyebut kesepakatan itu sebagai “bencana” karena dianggap gagal memenuhi tujuan utama perang.
Pemerintah Israel menilai perjanjian tersebut tidak menyentuh isu-isu krusial seperti pelucutan senjata nuklir Iran, pembatasan rudal, serta penarikan pengaruh Teheran di kawasan.










