Turunnya tingkat kepuasan dan elektabilitas Prabowo berpotensi membawa konsekuensi cukup serius. Diantaranya adalah pertama, kekuasaan Prabowo akan semakin kehilangan trust dan legitimasi publik. Kedua, melemahnya Prabowo mendorong kekuatan di luar Prabowo akan semakin bersemangat untuk melakukan konsolidasi yang lebih intens. Ketiga, pendukung Prabowo, terutama kelompok moderat, pragmatis dan oportunis akan mulai dihinggapi keraguan. Tidak menutup kemungkinan hasil survei SMRC dan Indikator ini akan mendorong sejumlah pendukung istana berkhianat. Dalam sejarah, Kekuasaan yang melemah selalu melahirkan pengkhinatan. Pengkhianatan menjadi salah satu anak kandung dari melemahnya kekuasaan. Keempat, tiga efek di atas berpotensi menciptakan kepanikan sehingga lahir sikap politik dan kebijakan yang blunder.
Merespon situasi ini, Prabowo dan lingkaran istana mesti mengambil langkah-langkah strategis, bahkan bila perlu ambil langkah radikal. Kalau tetap merasa aman dan tidak melakukan langkah-langkah strategis, maka ancaman akan semakin mendekati kenyataan. Apa langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan Prabowo?
Pertama, ganti sejumlah orang di struktur kekuasan dengan SDM yang lebih profesional. Tidak hanya di jajaran kementerian, tapi juga di sejumlah lembaga dan BUMN. Ini dalam rangka mengembalikan trust publik. Termasuk mengganti Kapolri dan Panglima TNI yang sudah terlalu lama menjabat, agar terjadi penyegaran di dua instutusi ini.









