Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
Ini persis seperti demo berujung rusuh Agustus lalu. Untuk dia, soal-soal Internasional itu paling penting. Dalam Imajinasinya, Indonesia negara besar yang dihormati negara besar lain. Dan dia berdiri di antara para raksasa itu – Xi Jinping, Trump, Putin, Kim Jong Un.
Ap sumbangan Indonesia disana? Tidak terlalu jelas. Yang jelas, Indonesia dapat pengakuan sebagai negara besar. Pengakuan saja sudah cukup bukan?
Di dalam negeri rakyat keleleran? Ah ada menteri-menteri yang kerja. Tapi para menteri itu tidak becus. Mereka menunggu perintah komandannya yaitu Bapak Presiden. Mereka selain nggak becus juga takut salah.
Ah itu kan cara berpikir orang-orang pintar yang kerjanya mengkritik pemerintah. Laporan yang masuk ke meja presiden, semua menteri bekerja dengan baik. Semua baik-baik saja. Angka-angka statistik juga baik. Rakyat di daerah bencana hidupnya makin membaik. Mungkin sudah makan tiga kali sehari.
Indonesia negara yang besar! Negara yang dihormati negara-negara lain!
Saya nggak tahu untuk apa bicara iklim? Presiden sendiri dalam pidatonya kemarin mengatakan Indonesia diberkahi sawit. Karena dengan begitu kita tidak perlu impor BBM. Itu diucapkan pada ulang tahun Partai Golkar, mantan partainya, yang dia keluar karena kalah dalam pemilihan Ketua Umum dulu.









