“Orang-orang desa dengan baju pinjaman tiba-tiba terjun ke politik, duduk di meja perundingan berhadapan dengan wakil-wakil terhormat, seperti Ratu Juliana yang berpakaian mentereng. Kesulitan terbesar dari para menteriku adalah menahan ketawa bila memikirkan keganjilan ini semua,” kata Sukarno dalam Penyambung Lidah Rakyat.
Singkong Rebus di Rumah Menteri

Kisah menarik lain tentang kesederhaannya adalah ketika ada beberapa pemuda dari organisasi Kristen ingin bertemu dengannya. Sebagai seorang tokoh Kristen, Jo memang kerap dimintakan pendapatnya.
Suatu hari, beberapa pemuda dari organisasi Kristen hendak bertamu ke rumahnya. Karena berpikir akan berkunjung ke rumah seorang menteri, mereka mengira akan diajak “makan besar” sehingga dari rumah mereka tidak sarapan.
Soal ajakan makan yang mereka pikirkan tidak sepenuhnya meleset. Hanya saja, bayangan “makan besar” yang mereka pikirkan jauh dari harapan setelah melihat isi meja makan Jo yang hanya ada singkong rebus. Sehari-hari, Jo dan keluarga memang biasa sarapan singkong rebus.
Mungkin para pemuda tersebut lupa, yang mereka datangi adalah menteri yang kehidupannya sangat sederhana dan bersahaja. Kehidupan sehari-hari Jo dan keluarga memang jauh dari kesan mewah. Apalagi gambaran seorang menteri yang hidupnya dipenuhi dengan fasilitas negara, Jo sangat jauh dari itu.










