Menurutnya, lulusan program tersebut akan diprioritaskan untuk bekerja di Proyek LNG Abadi Masela.
“Sebagian anak-anaknya sudah dikirim untuk sekolah di Cepu, di Akademi Migas milik ESDM. Mereka yang sudah lulus akan kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela,” katanya.
Pada fase operasi nanti, proyek ini diperkirakan mempekerjakan sekitar 850 tenaga kerja langsung, dengan komitmen sedikitnya 30 persen berasal dari tenaga kerja lokal Maluku dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Selain membuka lapangan kerja, proyek tersebut juga akan memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal melalui pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari rantai pasok industri.
Bahlil juga menegaskan sebagian besar produksi gas dari Lapangan Abadi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
“Nanti gasnya 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan 40 persen maksimal untuk kami melakukan ekspor,” ujarnya.
Dorong Industri Pupuk dan Pertumbuhan Ekonomi Maluku
Untuk mendukung pemanfaatan gas di dalam negeri, tiga badan usaha milik negara, yakni PLN, PGN, dan PT Pupuk Indonesia, telah menandatangani Heads of Agreement (HoA) sebagai calon pembeli gas domestik.
Menurut Bahlil, sebagian gas dari Proyek Masela akan dimanfaatkan untuk pembangunan pabrik pupuk dan industri blue ammonia di Maluku oleh PT Pupuk Indonesia.
Ia menjelaskan, pengembangan industri hilir tersebut diharapkan mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia sekaligus memberikan efek berganda terhadap perekonomian daerah.
Selain memasok kebutuhan industri pupuk, gas dari Blok Masela juga akan disalurkan kepada PLN, PGN, dan sejumlah perusahaan swasta guna meningkatkan nilai tambah serta mendorong pertumbuhan ekonomi di Maluku.









