Oleh: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa
PSI mengubah logo partai. Dari logo gambar tangan berubah menjadi logo gambar gajah. Dua pemilu, logo gambar tangan gak membawa hoki. Meski di belakang PSI ada presiden Jokowi, dua pemilu PSI tak juga berhasil menembus pintu Senayan. Perolehan suara PSI dibawah Parliamentary Threshold 4 persen. PSI bersama belasan partai lain harus legowo menelan pil pahit kekalahan. Apakah kekalahan ini bisa diinsafi dengan perubahan logo?
Di dua pemilu, PSI menggunakan strategi “jurus mabuk”. Strategi “ciptakan musuh dan masif menyerangnya”. PSI rekruit tokoh-tokoh kontroversial yang secara konsisten meramaikan ruang publik dengan menyerang obyek yang sudah dipilih jadi targetnya.
Hasilnya? “Strategi menyerang PSI” gagal total. Gak mampu meraih suara 4 persen. “Strategi Menyerang” ternyata tidak efektif untuk suasana politik di Indonesia.
Di mata publik, citra PSI buruk. Citra ini tidak bisa diperbaiki dengan perubahan logo. Gak ngaruh. Sebab, persepsi publik bukan pada logonya. Secara umum, publik gak ada yang peduli dengan logo. Gambar apapun tak punya pengaruh.
Yang dibutuhkan PSI bukan perubahan logo. Tapi, yang dibutuhkan PSI adalah mengganti tokoh-tokoh partai yang terlanjur punya citra buruk. Tokoh-tokoh itulah yang memberi pengaruh elektoral.









