Sambil menunggu hasil rukyat, kalender perkiraan menunjukkan kemungkinan awal puasa pada 19 Februari 2026. Dalam proses hisab, NU menggunakan Hisab Hakiki Imkan Rukyat dengan mengacu pada kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dalam penentuan awal bulan Hijriah, rukyat tetap menjadi acuan utama. Hilal diamati pada hari ke-29 bulan berjalan. Jika hilal terlihat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan baru. Namun, jika hilal tidak tampak, bulan tersebut disempurnakan menjadi 30 hari.
Awal Puasa Menurut Muhammadiyah
Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penentuan ini dilakukan berdasarkan metode hisab hakiki dengan mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), tanpa menunggu proses pengamatan hilal.
Penetapan awal puasa tersebut diumumkan oleh Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid. Metode hisab yang digunakan memperhitungkan waktu ijtima’ atau konjungsi bulan dan matahari serta posisi bulan secara global, sehingga awal bulan Hijriah dapat ditentukan secara astronomis.
Dengan pendekatan ini, penetapan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah tidak bergantung pada rukyatul hilal. Untuk menunjang ketepatan perhitungan, Muhammadiyah juga menggunakan sistem digital HisabMu sebagai perangkat resmi dalam penentuan kalender Hijriah.











