Dalam situasi seperti ini, yang dibutuhkan bukan lagi kebisingan, melainkan ketenangan, kerja nyata, dan ketegasan.
Para pemimpin di semua level harus berbicara dengan akal sehat—tenang, rasional, dan tidak larut dalam emosi. Karena yang sedang disusun hari ini adalah sebuah puzzle besar: perdamaian.
Dan satu keping penting yang masih hilang adalah kepastian hukum—menemukan dan mengadili pelaku pembunuhan, termasuk peristiwa 2 April di rimba pala Patani.
Di laut Patani yang biru dan jernih, kehidupan harus terus berjalan. April adalah musim Sib Mimnyen—waktunya panen laor. Pegunungan tetap hijau, laut tetap bernyanyi.
Maka bersenandunglah dengan hati merdeka.
Biarkan Rimba Pala Patani tetap hidup—menebar cahaya kehidupan yang tak pernah padam, tanpa tambang dan tanpa sawit. (**)









