Rak Filsafat Natsir

oleh -65 views

Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Ada pekerjaan sunyi yang sering luput dari perhatian di sebuah perpustakaan. Bukan membeli buku baru, bukan pula mempercantik gedungnya. Pekerjaan itu hanyalah memindahkan sebuah buku dari satu rak ke rak yang lain. Tampaknya sepele. Padahal, sejak saat itu buku yang sama akan dibaca dengan cara yang sama sekali berbeda.

Bayangkan bila karya-karya Plato dipindahkan dari rak filsafat ke rak sastra. Atau tulisan Adam Smith disimpan di rak sejarah ekonomi tanpa pernah diletakkan di rak filsafat moral. Bukunya tidak berubah. Kalimat-kalimatnya tetap sama. Tetapi cara orang memandangnya berubah total. Ia kehilangan rumah intelektualnya.

Barangkali itulah pekerjaan yang baru saja dilakukan Yusril Ihza Mahendra di Universitas Indonesia. Banyak media memberitakan bahwa Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan itu berhasil meraih gelar doktor filsafat dengan disertasi mengenai relasi Islam dan negara dalam pemikiran Mohammad Natsir.

Itu benar. Yusril kini memperoleh gelar doktor kedua dengan predikat sangat memuaskan. Tapi, menurut saya, itu belum menyentuh inti dari seluruh proyek intelektualnya.

Baca Juga  Kisah Sufi Besar Berguru pada Bahlul 'si Gila'

Yang sebenarnya sedang dilakukannya bukan sekadar membaca ulang Natsir. Ia sedang memindahkan Natsir dari rak politik ke rak filsafat — ke tempat yang selama ini justru paling jarang didatangi pembaca Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.