Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
TIGABELAS kawan saya hilang tidak berbekas hingga saat ini. Mereka dihilangkan! Dicabut nyawanya, dihilangkan dari muka bumi ini!
Hilang! Para pelakunya kabarnya dihukum penjara. Tapi penyelidikan yang saya lakukan tahun 2014 memperlihatkan mereka sama sekali tidak dipenjara.
Saya juga tidak mendapati putusan yang membebaskan para pelaku. Semua serba gelap. Semua serba rahasia. Tidak ada pertanggungjawaban.
Namun yang jelas, karir para pelaku ini tetap naik. Mereka tetap menjadi perwira-perwira militer, lengkap dengan bintang-bintang gemerlap di pundak mereka.
Sebagian dari para aktivis yang selamat memilih mencari selamat yang lebih besar. Mereka menjadi kaya raya dan menjadi politisi biasa. Seperti politisi pada umumnya. Bahkan mereka memilih mengabdi pada para penyiksanya. Mengapa harus bersusahpayah mencari keadilan untuk orang lain sementara ada kesempatan membuat nyaman diri sendiri?
Para politisi sipil yang berkuasa tidak terlalu berminat untuk mengurusi soal-soal HAM. Jangankan pelanggaran HAM masa lalu. Pada persoalan-persoalan HAM masa kini pun mereka menutup mata.








