Dia menjelaskan, “Kebahagiaan mereka menular, dan saya bersumpah untuk menjadikan hadiah ini sebagai ritual tahunan. Saya tidak tahu bahwa keadaan di luar kendali saya akan menghancurkan janji kebahagiaan ini secara brutal.”
Saat ini, realitas kehidupan di Gaza telah berubah drastis. “Banyak keponakan saya yang tinggal di tenda-tenda, menghadapi kelaparan dan terpaksa mengungsi akibat kerusakan akibat perang. Yang lainnya telah meninggalkan Gaza sepenuhnya, mencari perlindungan di tempat lain,” ujar dia.
Semua Jadi Puing

Dalam kondisi “normal” atau senormal mungkin selama blokade, minggu-minggu menjelang Ramadan biasa dipenuhi dengan persiapan.
Jalan-jalan di Gaza akan menjadi hidup ketika rumah tangga dan bisnis menghiasi balkon dan etalase toko mereka dengan lentera untuk menyambut bulan suci.
“Saya ingat kakak ipar saya membantu saya mendekorasi balkon rumah kami dengan lentera kecil ini,” ungkap dia.
Tradisi yang dijunjung tinggi ini, dipimpin ibu-ibu muda dan pemuda yang antusias, menciptakan suasana yang dinamis di seluruh lingkungan.
“Pemandangan jalanan Gaza yang terang benderang, yang ditenagai generator, panel surya, atau bahkan listrik yang tersebar secara sporadis, akan memenuhi hati saya dengan kegembiraan,” papar dia.










