Ramadan di Gaza: Makanan Langka namun Kesedihan Berlimpah

oleh -277 views
Warga Palestina menyiapkan makanan selama bulan suci Ramadan di Rafah pada 13 Maret 2024. Foto/REUTERS

Porostimur.com, Jalur Gaza – Bagi 2,2 juta Muslim di Gaza, Ramadan secara historis merupakan waktu pertemuan sosial yang menggembirakan, refleksi spiritual, pembaruan iman, dan reuni keluarga yang disayangi.

Namun, selama satu dekade terakhir, perang Israel yang berulang di Jalur Gaza telah membayangi tradisi yang dulunya pernah hidup ini.

Serangan genosida oleh Israel yang sedang berlangsung, yang telah merenggut lebih dari 32.000 nyawa warga Palestina dan menghancurkan Gaza, menjadikan bulan ini sebagai bulan yang paling menghancurkan.

Anak-anak di Gaza, Palestina berdesakan mengantri makanan yang suplainya sangat terbatas. Bayi dan anak-anak di Gaza mulai bertumbangan meninggal kelaparan dan kehausan setelah berbulan-bulan serangan, pengeboman, pengepungan dan blokade Israel. Kelaparan paling parah terjadi di Gaza utara, yang diisolasi pasukan Israel dan mengalami penghadangan pasokan makanan. (Sumber: AP Photo)

Bahkan ketika bertemu dengan orang yang lewat di jalan, seseorang tidak dapat dengan sopan mengucapkan “Ramadan Kareem” kepada mereka.

Ucapan selamat seperti itu terasa tidak pantas dan hampir memalukan, karena semua perayaan Ramadan yang penuh kegembiraan telah digantikan oleh duka yang tenang, hanya diselingi gema perang, kesedihan dan kesulitan.

Baca Juga  Mbappe Bersinar, Prancis Tumbangkan Senegal 3-1 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

“Tahun lalu, saya sangat senang bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak untuk pertama kalinya dalam karir saya. Dipenuhi dengan perasaan berkelimpahan, saya mengejutkan 22 keponakan saya dengan lentera warna-warni, atau ‘fanoos’, untuk menyambut bulan suci ini,” ungkap Ghada Alhaddad, jurnalis yang tinggal di Gaza.

No More Posts Available.

No more pages to load.