Faktor Morfologi Wilayah
Faktor morfologi merupakan salah satu komponen penting yang mempengaruhi kestabilan lereng dan potensi terjadinya longsor. Faktor ini mencakup kemiringan lereng dan ketinggian, bentuk lereng. Semakin curam kemiringan lereng, semakin besar gaya gravitasi yang bekerja untuk menarik material tanah atau batuan ke bawah, sehingga meningkatkan risiko terjadinya longsor. Lereng yang memiliki slope yang semakin curam cenderung lebih tidak stabil terutama saat terjadi hujan deras yang menyebabkan pelapukan pada material penyusun lereng.
Pada daerah di sekitar ruas jalan Sp. Waipia-Saleman dan Saleman-Besi sebagian besar termasuk kedalam wilayah dengan morfologi yang termasuk kedalam kategori berbukit terjal dan pegunungan curam. Hal tersebut meningkatkan potensi terjadinya pergerakan tanah pada daerah tersebut.
Faktor Kondidi Fisik Wilayah
Faktor yang terakhir adalah pergerakan tanah pada wilayah tersebut diakibatkan curah hujan yang tinggi. Hal tersebutn memicu terjadi tanah bergerak dan tanah longsor. Namun bagi Pemerintah, semua Upaya tetap dilakukan agar kepentingan Masyarakat akan akses jalan tetap ditangani secara baik.
Untuk itu Direktorat Jenderal Bina Marga pekan kemarin di Jakarta, melakukan Rapat Kerja dan Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja Triwulan I Tahun Anggaran 2025. Rakor tersebut juga dihadiri oleh pihak Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Maluku, dan menindaklajutinya hasil Rakor, Direktur Preservasi Jalan dan Jembatan Wilayah II, Ditjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, Rien Marlia, ST., MT turun langsung ke Maluku melihat kondisi ruas jalan nasional di Pulau Buru dan Pulau Seram.









