Refleksi 17 Agustus: Membaca Spiriit Sosio-Ekonomi Bung Karno

oleh -250 views

Dengan mengembangkan persamaan di lapangan ekonomi, Soekarno berharap tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka”. Pernyataan Soekamo tersebut seyogianya tidak dipandang dari kecenderungan utopismenya, melainkan dari segi tekadnya yang kuat untuk mengupayakan keadilan dan kesejahteraan sosial di seberang jembatan emas kemerdekaan.

Pencapaian tugas luhur itu tidak dipercayakan pada sebuah ideologi berbasis individualisme-kapitalisme, karena Indonesia mengalami pengalaman buruk penindasan politik dan pemiskinan ekonomi yang ditimbulkan oleh kolonialisme; sementara, kolonialisme itu sendiri merupakan perpanjangan dari individualisme-kapitalisme. Alih-alih memercayakannya pada individualisme-kapitalisme, Soekarno menyatakan bahwa sila keadilan sosial adalah “protes kita yang maha hebat kepada dasar individualisme”.

Titik tumpu pencapaiannya dipercayakan kepada sosialisme yang bersendikan semangat kekeluargaan dengan menghargai kebebasan kreatif individu. Sosialisme Indonesia ala Soekarno menjunjung tinggi asas persamaan dan kebebasan individu, namun dengan penekanan bahwa individu-individu tersebut adalah individu-individu yang kooperatif dengan sikap altruis.

Baca Juga  Wawali Tual Antar 28 Calon Haji, Pesan Jaga Kekompakan Selama di Tanah Suci

Altruisme sendiri adalah paham tentang perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Dan prinsipnya etika Soekarno lebih mengedepankan tanggungjawab dan solidaritas sosial bagi kebajikan kolektif. Dalam sistem sosialisme ini diandaikan bahwa seluruh penghasilan diatur menurut keperluan dan maslahat masyarakat untuk menghindari krisis karena persaingan.

No More Posts Available.

No more pages to load.