Kata ‘ah, luweh’ itu kembali saya dengar ketika saya tanyakan tentang demo mahasiswa yang saat ini kembali marak khususnya yang menolak UU TNI. Para birokrat ini tahu bahwa kita akan kembali ke jaman lama.
Banyak dari mereka mendengar cerita tentang bagaimana birokrasi di bawah sepatu lars tentara di jaman Orde Baru. Itu mereka dengar dari orangtua mereka yang kebetulan juga birokrat atau dari kolega-kolega kantor. Betapa mereka dituntut ini dan itu yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan mereka. Kebudayaan militeristik — seperti yang mengutamakan ketrampilan baris berbaris ketimbang ahli dalam pekerjaan sendiri — sangat menekan.
Dan, tentu saja, perasaan superior militer yang bisa seenaknya memerintah dan membentak kalau tidak dipenuhi. Memang tidak semuanya demikian. Namun, bahkan dengan gaya bicara saja, orang-orang sipil termasuk para birokrat ini sudah terintimidasi dan takut salah. Belum lagi kalau tentaranya ringan tangan dan ringan kaki.
Kalau Anda pegang senjata api, Anda pegang kuasa. Jadi selama militer masih pegang senjata api, selama itu ia harus dijauhkan dari dunia sipil.
Malam ini saya mendengar berita dari Malang. Demo mahasiswa anti UU TNI berakhir rusuh. Kabarnya kantor DPRD Malang dibakar. Tentara juga diturunkan untuk memukul mundur mahasiswa dan para “perusuh.”








