Kisah ini semakin menarik pikirku, semua beban dan masalah yang mengganjal di hati masing-masing tengah diutarakan tanpa sadar, aku suka pada bagian ini, bagaimana ketika topeng mereka dibuka, inilah kita sebenarnya…
Sembari menyesap kopi hitam pekat itu, daniel menghela nafas kasar, pikirannya tengah kalut, matanya tersirat sebuah kepasrahan yang tertahan dalam benaknya yang terasa menyesakkan
“Perkenalkan… aku adalah si penerima kenyataan bahwa dia hanya sosok tercantik yang terbayang disetiap malam, pada malam penuh sunyi itu ketika aku membayangkan si cantik yang tak akan mungkin pernah dapat kumiliki, bilang saja aku pengecut, yeahh.. itulah sisiku yang tak pernah kuberi tau” ucap daniel sembari menatap langit yang tengah gulita
Kekalutan hati tengah menjadi-jadi untuk saat ini, pada akhirnya bab terbaik dalam sebuah persahabatan yaitu menceritakan sebuah sisi lain atas diri sendiri
“lo kehilangan si cantik?” tanya rendra dengan hati-hati, ia merasa sakit begitu temannya ini mengucapkan kalimat yang terasa menyayat hati ini
Daniel tersenyum miring, sembari merutuki ucapan rendra yang terlihat tak masuk akal baginya, ia menatap satu per satu temannya yang kini juga menatapnya “bagaimana bisa aku mengatakan kehilangan, sedangkan tangannya pun belum pernah kugenggam” ucapnya dengan diakhiri helaan nafas pasrah penuh luka itu
“Diungkapkan merusak, ditahan sesak, ga ada yang tau kapan cinta akan tumbuh, dan ga ada yang tau juga kapan cinta akan berhenti” ucap rahma tiba-tiba membenarkan dan menyambung ucapan daniel




