Oleh: Made Supriatma, Peneliti, jurnalis lepas dan visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura
Menteri-menterinya menandatangani pakta integritas anti korupsi. Presidennya pidato kenceng soal anti korupsi. Suaranya sampai serak berteriak dan selalu diiringi sorak-sorak.
Bahkan ada podium pecah karena digebrak. Makin kencanglah sorak-sorak.
Namun rupanya korupsi juga makin kencang saja di negeri aneh dan kadang lucu ini. Orang nyolong di mana-mana. Sebagian besar karena terpaksa — untuk mengganjal perut dengan nasi kerupuk.
Namun ada lapisan kecil, di kelas paling mulia, nyolong paling brutal. Sangat brutal dan keji. Apa saja dimakannya. Mulai dari perjalanan mewah hingga ke jatah anak-anak miskin! Semua dicolong!
Lalu, bagaimana dengan pemimpin tertinggi? Apakah dia hidup di planet yang sama dengan kita para jelata ini? Apakah dia hidup menginjak tanah, kecuali di istana pribadi yang megah, mobilnya yang gagah, atau pesawat kenegaraannya yang mewah itu?
Sodara, berteriak anti korupsi hingga urat leher putus itu satu soal. Namun ada soal lain yang lebih penting: sebuah sistem yang memperkecil atau syukur-syukur menghilangkan korupsi.
Sebuah sistem yang bisa mengawasi orang-orang yang berkuasa. Sebuah sistem yang menghukum berat para maling, pencoleng, dan tikus-tikus pengerat yang menghancurkan republik ini.









