“Sudah lama saya jadi tukang becak. Sekarang memang penumpang sudah jarang, tapi saya masih bertahan karena ini pekerjaan yang saya bisa,” ujarnya pelan.
Bagi mereka, becak bukan hanya soal penghasilan yang kini kian menipis. Ia adalah bagian dari hidup—dari rutinitas yang telah dijalani bertahun-tahun, dari cerita yang terukir di setiap putaran roda.
Generasi yang Tak Lagi Menoleh
Di sisi lain, generasi muda nyaris tak melirik profesi ini. Mengayuh becak tak lagi dianggap menjanjikan. Pilihan pekerjaan lain, dari ojek hingga sektor jasa modern, terasa lebih cepat menghasilkan dan lebih sesuai dengan ritme zaman.
Akibatnya, becak seperti berjalan tanpa penerus.
Jika para pengemudi yang ada saat ini berhenti, bisa jadi roda itu benar-benar berhenti berputar.
Lebih dari Sekadar Alat Transportasi
Bagi sebagian warga, becak menyimpan nilai yang lebih dalam dari sekadar alat angkut. Ia adalah bagian dari sejarah Labuha—saksi bisu perjalanan kota dari masa ke masa.
Ada kenangan tentang perjalanan ke pasar bersama orang tua, tentang tawa anak-anak di atas kursi becak, atau tentang percakapan sederhana yang lahir di sepanjang jalan.
Kenangan-kenangan itu mungkin tak lagi sering terlihat, tapi masih hidup dalam ingatan banyak orang.
Harapan pun muncul agar pemerintah daerah memberi perhatian, setidaknya bagi para pengemudi yang masih bertahan, sekaligus menjaga keberadaan becak sebagai bagian dari warisan transportasi tradisional.









