Dan di antara semua itu, Turki tidak bisa selamanya berdiri di pinggir. Jika perang ini meluas, diam bukan lagi pilihan. Ia akan terseret—oleh kepentingan, oleh sejarah, atau oleh tekanan geopolitik yang terlalu besar untuk diabaikan.
Maka jika ini benar sebuah pancingan—maka dunia Teluk sedang berdiri di tepi keputusan paling berbahaya: membalas, dan masuk ke dalam skenario yang sudah disiapkan; atau menahan diri, dan perlahan digerus oleh provokasi yang tak berhenti.
Dan jika balasan itu datang—maka bukan hanya rudal yang akan berterbangan, tapi juga aliansi-aliansi yang selama ini samar akan menjadi terang: siapa memeluk siapa, siapa berdiri di mana.
Di titik itu, perang ini tak lagi milik Iran, bukan milik Arab, bahkan bukan milik Israel. Ia menjadi milik semua—dan ironisnya, paling menguntungkan mereka yang tak ikut berperang, tapi menjual alat untuk saling menghancurkan.
Dan ketika sejarah kembali ditulis dengan darah, dunia akan sadar—terlambat—bahwa api ini bukan sekadar dinyalakan… tapi memang sejak awal dibiarkan menyala. (**)








