Rumah Sagu Efata: Ketika Ibu-Ibu Batu Goyang Bangkitkan Harapan dari Tepung Sagu

oleh -417 views

Menyadari itu, Majelis Jemaat GPM Batu Goyang di bawah pimpinan Pdt. Albert Akolo menggagas solusi berbasis lokal yang mengutamakan pemberdayaan perempuan.

“Kami ingin menciptakan kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan. Sagu sudah jadi bagian dari hidup masyarakat Aru, sekarang tinggal bagaimana mengemasnya jadi produk bernilai ekonomi tinggi,” ujar Pdt. Akolo.

Modal awal sebesar Rp50 juta dikumpulkan dari jemaat dan digunakan untuk pelatihan, sertifikasi, pembelian kemasan, hingga alat produksi dasar. Dalam satu kali produksi, UMKM ini mampu menghasilkan 200 kemasan cemilan yang langsung dipasarkan sesuai permintaan.

Kedepan, Akolo berencana membangun sentra UMKM di Kota Dobo agar distribusi produk lebih luas dan profesional.

“Produksi masih tergantung pesanan. Tapi kami optimis, ini bisa jadi oleh-oleh primadona dari Kepulauan Aru. Kami juga mulai menjual lewat aplikasi online dan riset untuk masa simpan produk,” ungkapnya.

Meski masih terkendala permodalan dan alat produksi, semangat jemaat tak surut. Harapannya, Rumah Sagu Efata bisa jadi model ketahanan pangan dan ekonomi lokal, bahkan menginspirasi desa lain di Maluku untuk bangkit dari keterbatasan lewat potensi masing-masing.

“Proses ini masih panjang, tapi kami konsisten. Semoga ada dukungan kredit usaha atau program pemerintah lainnya,” pungkas Pdt. Akolo.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, krisis iklim, dan langkanya lapangan pekerjaan, langkah-langkah kecil seperti ini menjadi titik terang. Karena di tangan para ibu yang sederhana, harapan untuk kemandirian ekonomi jemaat dan masyarakat terus tumbuh—satu kukis sagu dalam satu kemasan. (Maichel Koipuy)

No More Posts Available.

No more pages to load.