Porostimur.com, Dobo – Di tengah terpaan perubahan iklim dan menurunnya hasil laut yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga nelayan di Desa Batu Goyang, Kepulauan Aru, sekelompok ibu rumah tangga bangkit membangun harapan baru melalui tangan-tangan kreatif mereka.
Lewat sentuhan tangan para perempuan jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM), berdirilah UMKM Rumah Sagu Efata—sebuah inisiatif lokal yang mengolah tepung sagu menjadi cemilan berkualitas premium, tanpa bahan pengawet, namun sarat cita rasa dan nilai gizi.
Sejak berdiri pada 2024, UMKM ini telah memproduksi tiga varian andalan: kukis semprong, kukis bangket, dan kukis batang macis. Produk-produk ini bahkan telah mengantongi izin BPOM dan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Aru.
Dengan harga terjangkau Rp20.000 per kemasan, rasanya mampu bersaing dengan produk dari pabrik besar. Kini, camilan dari Rumah Sagu Efata mulai dilirik sebagai oleh-oleh khas dari Aru.
Ekonomi Alternatif di Tengah Laut yang Kian Sepi

Inisiatif ini lahir dari keprihatinan sederhana: mayoritas keluarga di Batu Goyang bergantung pada hasil melaut, sementara musim tak lagi bersahabat. Cuaca ekstrem dan perubahan iklim menyebabkan hasil tangkapan nelayan menurun drastis.










