Saya menyendok pelan. Rasa manis, gurih, dan pedas bertemu tanpa aba-aba. Lidah saya sempat bingung, tapi kemudian tunduk. Ada semacam jujur dalam rasa itu, semacam keyakinan yang tidak butuh penjelasan. Seperti kampung ini—tidak dibuat untuk menyenangkan orang luar, tapi untuk menjadi rumah bagi yang lahir di sini.
Kami berbincang pelan. Tentang kampung, tentang alam, dan tentang air. Di Sibolong, rumah-rumah masih mengandalkan mata air. Meskipun pompa sudah masuk, tekanan air tak selalu cukup, sehingga sumber alami masih menjadi penopang utama. Salah satu mata air terbesar terletak tak jauh dari masjid, di bawah pohon beringin besar yang akar-akarnya menggenggam batu seperti tangan tua yang tak mau melepas.
Tapi air kini tak sederas dulu.
Saya temui Mbah Selamet, 95 tahun, saat ia menyapu halaman masjid. Tubuhnya ringkih, tapi suaranya terang. Ia bercerita tentang masa Jepang dan Belanda, tentang zaman ketika air mengalir deras bahkan tanpa selang. “Sekarang tinggal nitis-nitis,” katanya. “Tipis. Mata airnya belum mati, tapi udah tua juga, kayak saya.”
Ia tertawa kecil.
Kebun di belakang masjid masih ditanami kopi tua peninggalan zaman kolonial, diselingi kapulaga liar yang tumbuh sendiri, dan berbagai umbi-umbian lokal yang tak masuk katalog pertanian modern. Tak ada yang dibanggakan secara verbal, tapi semuanya dipelihara seperti warisan diam.








