Yang lebih mengagumkan: burung-burung yang tidak dijerat, tapi dibiarkan bernyanyi. Jatimulyo melarang warganya berburu burung. Anak-anak tumbuh mengenal suara burung lebih dulu daripada mengenal suara gawai. Ini bukan wisata burung. Ini adalah kehidupan.
Tak heran bila kini wilayah ini juga masuk dalam proyek besar Jalan Wisata Bukit Menoreh—sebuah jalan strategis dari kawasan barat Jogja hingga Borobudur, menyusuri lereng dan perbukitan Menoreh. Tapi Jatimulyo tidak berubah menjadi serakah. Warga tetap memelihara hutan, memelihara pohon, dan membiarkan alam tetap bicara dalam sunyinya.
“Orang sini nggak punya banyak-banyak uang,” kata Pak Sarijo sambil menyeruput kopi.
“Tapi cukup. Cukup itu bikin hidup lebih tenang.”
Dan saya percaya.
Karena di kampung ini, tidak ada yang keras kecuali sambalnya. Selebihnya adalah keheningan yang sabar, embun yang lama menguap, dan angin yang tahu kapan harus berhenti.
Saya menatap kembali meja nangka itu, tempat percakapan kami bertahan lebih dari dua jam. Dawet sambal sudah habis. Tapi rasa pedasnya masih tertinggal, seperti pesan yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Sibolong bukan tempat untuk dikunjungi. Ia tempat untuk kembali. Bukan tempat wisata, tapi tempat yang tahu kapan harus diam, dan bagaimana mengajari kita untuk tidak selalu ingin lebih.








