Pertarungan ini berlangsung intens hingga berakhirnya Agresi Militer II dan pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar (KMB). Sejak saat itu, gagasan federalisme di Ternate perlahan melemah, dan wilayah ini akhirnya terserap ke dalam sistem negara kesatuan.
Sastrawan dan jurnalis senior Dino Umahuk juga mencatat bahwa Sultan Muhammad Jaber Syah pada dasarnya mendukung berdirinya Indonesia, namun dengan syarat berbentuk federasi.
“Maaf saja, saya mau republik, tapi sistemnya federal,” demikian sikap Sultan kala itu, seperti dikenang putrinya, Syahrinnisad.
Identitas, Tradisi, dan Memori Kolektif
Di balik dinamika politik tersebut, Kesultanan Ternate menyimpan jejak sejarah panjang yang membentuk identitasnya hingga kini. Istana atau kadatong yang menghadap langsung ke laut menjadi saksi bisu pertemuan berbagai peradaban—dari Tiongkok, Melayu, hingga bangsa Eropa seperti Portugis dan Belanda.
Simbol kesultanan, Goheba Madopolo Rumdidi—burung garuda berkepala dua—merepresentasikan filosofi kekuasaan dan persatuan yang telah ada sejak era Moloku Kie Raha pada abad ke-14. Di sisi lain, benteng-benteng peninggalan kolonial seperti Kastela, Tolukko, dan Oranje menjadi penanda kerasnya perebutan pengaruh di wilayah kecil yang strategis ini.










