Sekjur Tarbiyah STAI Babussalam Sula Kesal Bupati tak Hadiri Seminar Budaya

oleh -215 views
Link Banner

Porostimur.com | Sanana:

Sekretaris Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Syahrul Takim kecewa dan kesal dengan ketidakhadiran Bupati Kepulauan Sula, Hendrata Thes pada kegiatan Seminar Budaya yang digelar sekolah tinggi tersebut.

Padahal menurut Syahrul, Seminar Budaya ini merupakan kegiatan penting yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Kelompok Seni Budaya dan Olahraga (KSBO) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula Maluku Utara.

Sebab kegiatan ini untuk Memotivasi pembentukan sikap terhadap Adat dan Seni Budaya Sula dan mendorong generasi mencintai budaya lokal Sula.

Kegiatan seminar ini memberikan pengenalan budaya lebih jauh tentang budaya Sula untuk di kembangkan serta dari seminar ini diharapkan dapat mempertahankan dan melestarikan budaya otentik Kabupaten Kepulauan Sula.

Baca Juga  Iran Serang Pangkalan Militer AS dengan Belasan Rudal

Kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari tersebut terhitung sejak tanggal 22 s/d tanggal 24 Oktober 2019 yang bertempat di Aula STAI Babussalam Sula di buka oleh ketua STAI Babussalam Sula.

Kegiatan Seminar ini mengundang beberapa pemateri dari unsur akademisi, budayawan dan pemerintah daerah.

Semua keterwakilan akademisi dan budayawa hadir namun sayangnya dari pihak pemerintah tidak menghadiri. Baik bupati kepulauan Sula, sekda dan kadis pendidikan kabupaten kepulauan Sula padahal mereka semua berada di tempat dan tidak ada yang keluar daerah.

Padahal kegiatan seperti ini sangat membutuhkan Pembicara dari pemerintah daerah sebagai lembaga penting untuk bicarakan pengembangan seni dan budaya di kabupaten Kepulauan Sula.

Baca Juga  Jasri Usman Kembali Pimpin PKB Malut

“Kami menilai dari ketidakhadiran Bupati, sekda dan kadis pendidikan menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak menghargai Undangan dan kegiatan yang dilakukan,” ujar Syahrul Takim.

“Jika dilihat pengembangan budaya adalah sektor penting dalam menunjang visi bupati kepulauan Sula. Namun dari aspek akademis kegiatan seperti ini tidak di anggap penting maka sudah pasti program Kedepan tidak berkualitas,” sambungnya.

Ia menuturkan, walau Hendrata mengutus perwakilan menyampaikan materi tetapi tidak seperti kehadiran bupati sendiri, karena mereka bukan pengambil kebijakan dan hanya mampu menginterpretasikan visi misi bupati.

“Seharusnya kebiasaan buruk ini jangan lagi terulang, apalagi kegiatan akademis yang dilaksanakan di kampus. Jangan sampai mahasiswa Demonstrasi di jalanan lalu kalian menuduh di tunggangi atau malah di justice hanya bisa kritik, kenapa tidak sediakan ruang untuk diskusi, sekarang sudah di buka ruang untuk diskusi lebih formal yakni Melalui Seminar Budaya tetapi malah tidak menghadiri, sungguh ini adalah perilaku buruk dalam pelayanan publik,” pungkasnya. (if/raka)