Meski secara ambang batas sudah bisa mencalonkan capres-cawapres, diketahui KIB hingga kini tidak memiliki ‘jago’ yang tinggi elektabilitasnya. Berdasarkan survei Poltracking Indonesia terakhir misalnya, elektabilitas Airlangga paling kecil dari daftar sepuluh capres di angka 1,7 persen. Adapun, PAN dan PPP sebagai mitra koalisi Golkar saat ini, malah tidak memiliki tokoh yang masuk bursa capres di ragam survei yang belakangan marak dirilis.
Ada tiga kemungkinan langkah yang akan diambil KIB untuk Pilpres 2024. Pertama, KIB tidak mengusung capres-cawapres sama sekali dan bergabung dengan koalisi lain. Kemungkinan kedua, KIB membubarkan diri dan anggotanya secara terpisah bergabung ke koalisi pilihan masing-masing. Dan yang ketiga, KIB tetap utuh namun ‘membajak’ kader partai lain atau tokoh non-parpol yang memiliki elektabilitas tinggi.
Untuk kemungkinan yang terakhir, KIB bisa saja menunggu keputusan PDIP sebelum akhirnya ‘membajak’ Ganjar Pranowo sebagai capres. Ganjar, sebagai bakal calon dengan elektabilitas tertinggi saat ini, bisa menjadi penentu konstelasi koalisi Pilpres 2024 di menit-menit akhir pencalonan.
PDIP yang sudah pasti mengusung Puan, apakah nantinya tetap akan mengakomodasi Ganjar, misalnya, menjadi cawapres. Namun, memasangkan Puan-Ganjar atau sebaliknya sepertinya kecil kemungkinannya. Meski bisa mengusung pasangan calon sendiri, PDIP juga perlu bermitra dengan parpol atau kelompok yang memiliki basis massa besar jika ingin memenangkan kontestasi pilpres.




