Di sinilah letak keunikan sejarah Iran yang sering kali gagal dipahami oleh para analis Barat yang sekuler. Bagi Moghaddam, sains dan spiritualitas bukanlah dua garis sejajar yang tak pernah bertemu. Ketika otak manusia mencapai batasnya, ia percaya ada pintu lain yang bisa diketuk.
Dia tidak membalas tawa itu dengan makian. Dia justru lari ke Mashhad, sowan ke makam Imam Ali Ridha. Selama tiga hari, ia mengasingkan diri dalam doa. Ia ber-wasilah, memohon kepada Allah melalui kemuliaan Imam Ali Ar Ridha agar diberikan secercah cahaya untuk memecahkan kerumitan teknologi yang disembunyikan manusia darinya.
Di hari ketiga, ilham itu datang. Begitu saja. Dia tidak sempat cari kertas gambar mahal. Dia ambil buku catatan putrinya, buku yang mungkin isinya coretan PR matematika atau gambar perbukitan. Di situ, di kertas bergaris itu, dia gambar sketsa yang kelak akan bikin dunia gempar. Rahasia militer paling tinggi lahir dari buku tulis anak kecil. Itulah sketsa yang kelak mengubah peta kekuatan militer di Timur Tengah.
Hari ini, roda nasib berputar secara dialektis. Rusia yang dulu merasa sebagai “pemberi izin” teknologi, sekarang harus merunduk meminta bantuan kepada “murid-murid” Moghaddam ini. Rudal itu sudah teruji di medan laga, “battle proven”, ketika mampu menggebuk pangkalan nevatim air base di Israel pada perang Juni lalu, dan bagaimana rudal-rudal Iran meluluh lantakan 13 pangkalan militer AS di Timur Tengah, tanpa perlu validasi dari lembaga-lembaga dunia yang sering kali cuma jadi alat politik.








