Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis senior dan satrawan nasional
Di tengah memanasnya konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, dunia kembali terbelah dalam garis lama: kekuatan besar berhadapan dengan poros perlawanan. Dalam situasi seperti ini, negara-negara berkembang diuji—apakah tetap berdiri pada prinsip, atau terseret dalam arus kepentingan global.
Indonesia, sayangnya, tampak cenderung memilih jalan kedua.
Alih-alih tampil sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif yang tegas dan konsisten, Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto justru menunjukkan gejala kontradiktif: ingin tampil sebagai mediator perdamaian, tetapi kehilangan pijakan moral dan daya tawar diplomatik.
Iran: Sahabat Lama yang Dijauhi dalam Sunyi
Secara historis, hubungan Indonesia dan Iran tidak sekadar formalitas diplomatik. Kedua negara memiliki kedekatan dalam forum dunia Islam dan Gerakan Non-Blok, bahkan pernah menjadi simbol jembatan antara Sunni dan Syiah.
Namun dalam eskalasi konflik terbaru, Indonesia memilih diam.
Lebih problematis lagi, sikap ambigu tampak dalam momen simbolik: tidak adanya pernyataan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei, serta absennya ucapan resmi terkait transisi kepemimpinan kepada Mojtaba Khamenei. Dalam diplomasi, simbol adalah pesan. Ketika simbol itu hilang, yang muncul adalah tafsir: Indonesia sedang menjaga jarak.









