Hassan Tehrani Moghaddam sudah gugur, dia sudah kembali ke sumber cahaya. Namun, warisannya bukan sekadar selongsong besi yang bisa terbang ribuan kilometer. Warisannya adalah sebuah mentalitas: bahwa tidak ada pintu yang benar-benar tertutup bagi mereka yang berani mengetuk pintu langit saat pintu-pintu bumi terkunci rapat.
Hari ini, saat kita melihat pawai rudal Iran menembus langit Yerusalem dan menghancurkan Tel Aviv dan Haifa, kita diingatkan bahwa di balik kecanggihan mesin itu, pernah ada seorang pria yang menangis di atas sajadah, menggambar masa depan di buku tulis putrinya. Ya… Allah menitipkan rahasia kedaulatan bangsa Iran di atas kertas murah milik seorang anak kecil.
Ila Ruh wa Ahlul Bait Syahid Hassan Terhrani Moghaddam, alfatihah… (**)








