Oleh: Arbangi Kadarusman, Penulis
Di sebuah sudut kota Mashhad yang dingin, di bawah kubah emas yang menaungi peristirahatan Imam Ali bin Musa al-Ridha, seorang pria bersimpuh. Pria itu adalah Hassan Tehrani Moghaddam. Di pundaknya, terpikul beban sejarah sebuah bangsa yang sedang dikepung, dikucilkan, dan nyaris ditinggalkan oleh seluruh dunia.
Dunia kelak mengenalnya sebagai “Bapak Rudal Iran”, namun di hadapan pusara sang Imam, ia hanyalah seorang hamba yang sedang mengetuk pintu langit. Ia sedang mencari jawaban atas teka-teki baja yang gagal dijawab oleh logika para teknokrat Rusia.
Beberapa waktu sebelumnya, Moghaddam berdiri di sebuah markas militer yang kaku di Rusia. Ia datang dengan harapan sederhana: membeli teknologi. Saat itu, Iran adalah negeri yang haus akan keamanan di tengah kecamuk perang yang tak kunjung usai. Namun, permintaan Moghaddam untuk adanya transfer teknologi disambut dengan tawa yang merendahkan oleh seorang perwira tinggi Rusia.
“Teknologi ini hanya khusus untuk Rusia!” ujar perwira itu dengan nada angkuh. “Anda tidak akan bisa mencapainya, bahkan dalam waktu lima puluh tahun ke depan.”
Moghaddam pulang dengan tangan hampa di atas kertas, namun dengan api yang berkobar di dalam dada. Ia kembali ke laboratoriumnya di Teheran, mencoba membedah rahasia-rahasia aerodinamika dan propulsi, namun setiap upaya menemui jalan buntu.








