Menteri ESDM Arifin Tasrif menjelaskan, sejak ditinggal Shell pada tahun 2020, pengembangan Blok Masela tidak ada progres.
“Karena sudah lama nggak diisi statusnya kan jadi nggak jelas, kita nggak punya kepastian. Kan tadinya rencana mengalir gasnya kan 2027,” katanya di Kementerian ESDM Jakarta, Jumat (4/8).
Hak partisipasi Shell pun kini telah diambil Pertamina dan Petronas. Dengan adanya dua perusahaan diharapkan dapat menutup kesenjangan karena ditinggal Shell.
Pemerintah sendiri memiliki target produksi gas di tahun 2030 sebesar 12 miliar standar kaki kubik per hari (bscfd). Dia berharap, Blok Masela dapat produksi paling lambat Desember 2029.
“Memang pemerintah mengharapkan target tahun 2030 capaian produksi 12 bscfd, itu kita harap 30 Desember 2029 sudah berproduksi paling lama,” katanya.
sumber: detikcom









