Snobisme atau Apa Arti Kemewahan

oleh -350 views

Lalu, mereka berkompetisi dengan siapa? Ya dengan sesama orang kaya yang dikejar-kejar duit sehingga bingung untuk menghabiskannya. Di kalangan orang-orang ini, perlombaan untuk menjadi siapa yang lebih classy, siapa yang lebih mewah, siapa yang lebih punya selera, sangatlah tinggi.

Apa saja bisa jadi bahan kompetisi. Halah, cuman skincare segitu. Punya gw langsung dari Paris! Memang sih kompetisi semacam ini tidak hanya terjadi di kalangan elit super kaya.

Ia terjadi di semua tingkatan. Termasuk di kalangan kaum kere. “Halah cuman hand body Pipa (Viva) aja …,” begtu sering saya dengar di toko Bapak saya ketika kecil ketika buruh pabrik rokok Panamas berbelanja.

Baca Juga  Kejati Maluku Selidiki Dugaan Korupsi Pembangunan SMAN 29 SBB

Levelnya di kalangan elit tentu sangat lain. Ia bisa merambah ke mana-mana. Ada yang membuat competitive edge dengan mengundang ceramah ustad sangat terkenal ke rumahnya dan kasih siraman rohani secara pribadi.

Di kalangan Katolik, saya kerap melihat orang-oang yang Sakramen Pernikahannya dipimpin oleh Uskup. Tidak hanya satu, tapi dua, tiga … dan pernah dua belas! Hampir setengah dari jumlah uskup yang ada di Indonesia! Dan para uskup tampaknya senang melayani domba-domba berbulu emas ini.

Itulah yang namanya snobisme — sebuah gejala yang ingin menunjukkan superioritas (sekaligus juga mengirim pernyataan kepada yang lebih bawah). Mental snob ini ada di mana-mana.

No More Posts Available.

No more pages to load.