Soal Insentif Nakes di RSUD Tulehu, Rofik Afifudin: Ada yang Tidak Beres

oleh -151 views
Link Banner

Porostimur.com | Ambon: Pimpinan dan anggota Tim I Pengawasan Tugas COVID-19 DPRD Provinsi Maluku menggelar rapat kerja bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku serta Direktur dan Kepala Keuangan RSUD dr.Umarela-Tulehu, dalam rangka membicarakan hak-hak dan tunjangan para medis yang belum terbayarkan. Rabu (3/2/2021).

Saat ditemui awak media usai rapat kerja yang berlangsung di ruang rapat Paripurna DPRD Provinsi Maluku, Anggota DPRD Provinsi Maluku, Rofik Akbar Afifudin menjelaskan, masalah yang timbul di RSUD Tulehu disebabkan karena adanya pengelompokan dalam pemberian insentif.

“Ya pengelompokan yang besar jangan kecil-kecil. Akhirnya hitung uang lebih, ada perawat non covid, ada penunjang non covid, Sopir dan Satpam. Nah kebijakan itu ada sekitar Rp 82 miliar untuk 10 orang, lalu Cleaning Servis Team, Cleaning Servis Non Team, pasien Covid. Kalau soal kebijakan itu bersumber dari pimpinan yahkan?,” ungkapnya.

Baca Juga  Usman-Bassam Resmi Dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Halmahera Selatan

“Kalau memberi kebijakan pada sebuah perusahaan, itu harus mempunyai standar yang diketahui jangan sampai kebijakan like and dis like (suka dan tidak suka) yah kan? Tadi dia bilang (kadis kesehatan) saya siap mendapat fitnah dan sebagainya, itu resiko siapa saja bukan hanya pemimpin,” imbuhnya.

Rofik menegaskan, kebijakan ini tidak clear di bawah karena masalah sudah muncul di rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr, H. Ishak Umarella.

“Cuma yang ingin saya tegaskan masalah ini sudah muncul, kalau dia sudah muncul berarti kebijakan ini tidak clear di bawah. Makanya ini saya tanya kemauan mereka zona merah atau direktur pada saat melihat duit yang terlalu banyak lalu tidak tahu mau dibagikan bagaimana? Kira-kira itu yang belum clear menurut Saya,” ujarnya.

Baca Juga  Peringati Maulid Nabi, Aljazair Gelar Salat Perdana di Masjid Terbesar Ketiga di Dunia

Kita harus ketemu sama orang, Ini hak orang! maka kita harus ketemu sama orang. Kalau anda mau berbagi, maka berbagilah dengan ikhlas jangan dipersoalkan, kalau anda tidak mau berbagi maka yang tidak mau berbagi dipisahkan, kasih aja semua buat dia yang tidak mau berbagi, karena kita tidak bisa paksakan orang seperti itu ,” tegas Rofik.

“Nah dia sudah muncul menjadi masalah seperti ini kan menjadi bola liar. Karena orang akan melihat persoalan ini dari dua persepsi yang pertama persepsi tanpa prasangka, artinya ini kebijakan beliau yang baik ingin memberikan pada semua orang, atau yang kedua bisa saja orang mengira ada terjadinya markup, bisa saja ada dugaan seperti itu,” imbuhnya.

Baca Juga  Ibu-ibu, Ini Cara Melacak Lokasi Suami Pakai WhatsApp

Rofik tekankan, kalau bisa menerima sesuatu yang sifatnya positif, maka negatif juga harus di terima. Jadi kalau ada yang menganggap ini niat baik dan kalau ada yang menganggap ini ada dugaan, maka keduanya harus di terima karena hal ini sudah keluar di media. (valen)